Diganggu Hantu

Adanya makhluk halus itu antara percaya ga percaya sih.  Tapi kali ini aku mengalami lagi setelah kesekian kalinya. Yaaa..  Walau ga semistis yang dulu-dulu, setidaknya saat itu ada yang diajak teriak bareng lah. 

Cerita ini bermula dari kumpul-kumpul terakhir teater angkatanku.  Aku memilih untuk manggang-manggang di salah satu runah temahku.  Rumah itu di daerah Gianyar. Perumahan yang lunayan sepi.

Dari pagi kami bagi tugas untuk beli bahan di hari H.  Lalu kami berkumpul di Alf*mart biar ga nyasar rumah.  Setelah 3 mobil yang kami pakai berkumpul.  Kami menuju lokasi.  

Oke lanjut ke masalah lokasi.  Ada gapura besar yang menyambut kami, post satpam yang minimalis, dan deretan perumahan yang lumayan berjarak jauh-jauhan. Dan lokasi kami paling ujung,  paling terjauh dari rumah-rumah yang lain.  Pagarnya yang tinggi,  di hiasi dedaunan kering yang berserakan tak terurus di depan rumahnya. 

Bersama-sama kami masuk.  Disana banyak cicak.  Yang buat para gadis dirombongan kami jerit-jerit hebat.  Asli rumah itu lumayan mencekam.  

Setelah kami menaruh barang-barang kami.  Kami membagi tugas untuk bersih-bersih.  Setelah bersih-bersih kami membagi tugas menyiapkan alat panggang.  

Dan horror dimulai saat kami berpencar membeli barang yang terlupa.  Tersisa sekitar 5 atau 6 orang di rumah saat itu.  Niatnya kami ingin menakut-nakuti teman kami yang sedang beli air.

Kami berlima bersenbunyi di salah satu kamar disana.  Kamar paling mewah,  dengan kasur yang berbalut selimut putih tetapi bau debu.  Kami mengunci diri kami dari dalam.  Sesekali kita menyusun rencana untuk menakut-nakuti mereka jika mereka datang dan mendapatkan tiada siapa dirumah. 

Tiba-tiba,  terdengar suara langkah kaki.  Kami berfikir bahwabitu teman kami.  Tapi setelah langkah kaki menghilang,  tak kunjung kami dengar suara orang.  Lagi-lagi suara kaki terdengar,  terus begitu berkali-kali. Kami pikir kami akan di dikejutkan oleh mereka ketika kami membuka pintu.  Tapi saat kami membukanya,  tiada siapa.  Segera kami tutup kembali pintu tersebut.  

Kami didalam sudah menjerit-jerit ketakutan dan kemencekaman.  Hingga salah satu temanku berteriak, "siapa ee?  Masuk masuk ajaa..  Jangan bercandaaa". Tapi tetap tidak ada respon.  Tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu kamar kami,  yang membuat kami semakin menjadi-jadi teriak ketakutan.  

Setelah beberapa menit,  tmterdengar suara teman kami datang.  Spontan kami berlari membuka pintu dan menanyai teman kami mengenai suara langkah kaki dan suara ketukan itu.  Tapi teman kami mengakui mereka tidak melakukannya, jelas-jelas mereka baru datang. 

Setelah kami mencoba menenangkan diri, kami melanjutkan aktivitas kami.  Semuanya berjalan seperti biasa kembali.  Hingga petang menjelang. 

Kami mendengar orang teriak permisi sebanyak 2 kali dari luar pagar.  Tapi tidak ada siapa.  Hal tersebut membuat kami semakin paranoid.  Tapi kami tetap berusahan untuk tenang dan melanjutkan semuanya.  

Setelah makan-makan selesai,  kami membagi ruangan.  Ruangan yang mewah berbalut putih kami berikan kepada teman kami,  Bayu namanya.  Kebetulan dia ketua teater di sekolah ku,  dan hanya dia seorang laki-laki pada acara kami.  

Dan para cewe dikamar yang lagi satu yang lumayan luas dari 2 kamar lainnya.  Kami asik nyemil dan membahas mengenai kuliah.  Tiba-tiba Bayu datang ke kamar kami.  Dari raut wajahnya ia terlihat takut.  

Dan sekitar pukul setengah 8 malam,  kami sudah bergegas untuk pulang.  Kami merapikan semuanya.  Tapi ada tragedi yang memaksa kami harus tetap tegar dan berani,  yaitu mencari remote AC yang hilang.  Dan mematikan semua lampu sebelum pergi.  Rasanya kami ingin cepat-cepat pulang saja.

Tapi karena kami cepat-cepat ingin pulang,  kami sampai lupa mematikan meteran air.  Hal tersebut membuat kami harus memutar balik mobil kami kembali menuju rumah yang gelap,  besar,  mencekam dan dihiasi dedaunan kering.  

Kami menumbalkan Bayu untuk masuk kedalam dan mematikannya.  Lalu kami kembali ke mobil masing-masing lalu tancap gas pergi menjauhi rumah tersebut.  Aku sempat menengok kebelakang.  Terlihat deretan rumah yang terlihat kosong dan gelap.  

Syukurnya aku berhasil pulang sampai rumah hingga selamat.