Kenangan Rumah Lama

Tak kurasa bahwa kini umurku sudah nyaris kepala dua.  Kembali teringat indahnya masa kecil ku dengan kenakalannya yang menggelitik,  yang suka dibahas orang tuaku kepada teman temannya. 

Mulai dari beli pentol di depan rumah lalu ku buang, bakar bakar ubi sampe keracunan, main masak-masakan pake batu bata,  main angkat-angkat sepeda, hingga menjadi monyet di pohon singapur kesayangan.

Dulu rumah ku terbilang cukup luas,  kami mempunyain kebun sendiri di pekarangannya,  mulai dari kebun tebu, kacang tanah,  jagung,  kangkung,  singkong,  pisang, mangga dll. Ibuku adalah orang yang suka sekali berkebun, menghabiskan waktunya diantara tanaman-tanaman. 

Di halaman utama,  ditumbuhi rerumputan pendek yang biasa aku pake untuk berguling guling dan bermain bola bersama kakak ku.  Di sebelah halaman utama,  ada pohon singapur yang cukup tinggi dan kokoh. Itu pohon singapur kesayangan kami.  Ayahku sampai membuatkan kami ayunan dari ban mobil yang dipotong sedemikian rupa sehingga nyaman untuk diduduki.

Kalau kami sedang gabut, layaknya monyet kami memanjat pohon tersebut dan tiduran tepat diujung pohon tersebut.  Puncak pohon tersebut berbentuk cekungan dari liuk liuk dahannya.  Sehingga nyaman untuk disandar karena seolah mirip sarang burung. 

Dari atas pohon,  aku mampu melihat rumah rumah tetanggaku dan kegiatan apa saja yang ada di luar pagar rumahku. Pagar rumah ku sekitar 3 meter dan tertutup rapat tanpa celah. Itu membuat aku dan kakak ku sedikit kuper saat itu karena rumah kami yang sangat tertutup. 

Aku menyukai rumahku.  Tapi waktu memaksaku mengakhiri kenyamanan dirumah tersebut.  Ayahku menebang pohon kesayangan kami karena alasan takut aku jatuh dari pohon. Sebenarnya aku tau,  bahwa kami akan segera meninggalkan rumah tersebut karena masalah bisnis. 

Sampai pada akhirnya,  kami pindah.  Meninggalkan semua kenangan disana. Rumah itu terbengkalai hingga sekitar 4 bulanan.  Btw aku pindah rumah tak jauh dari rumah tersebut. Aku sering melihat tagihan listrik dan air yang diselipkan pada gagang gerbang rumah kosong itu. 

Kosong.  Dan banyaknya tanaman rambat yang menutupi gerbang rumah itu. Rumah yang dulu sangat ku sayangi,  kini menjadi bangunan kosong tak bertuan yang menyeramkan. 

Beberapa tetangga pernah melihat sekumpulan anak-anak bermain lompat tali di depan pagar rumah itu,  atau melihat wanita yang keluar masuk rumah.  Dan ekor ular yang sangat besar dekat pagar pada mal hari

sebelum kami pindah,  memang banyak kasus seperti itu,  mulai dari aku melihat ibu ku masak tengah malam,  padahal ibuku mengaku tidur pulas gaada masak apa-apa, melihat ayah ku menanam kacang tanah sedangkan waktu itu ayah ku di jakarta (yang ini aku lupa kalau ayah di jakarta, makanya aku abaikan seperti biasanya. Sadarnya pas udah malem),  lalu mendengar ayah ku mengetok pintu rumah pulang kerja sedangkan pas diliat dari jendela gaada siapa,  dan tumpukan cucian kotor yang terlihat seperti anak kecil sedang meringkuk(bukan aku aja yang liat) tapi setelah diperhatiin baru keliatan cucian kotor,  kalau sekilas kayak anak meringkuk.  Dan lain lain

Tapi sekian tahun aku disana,  aku mulai terbiasa.  Hingga aku pindah rumah,  dan menyaksikan sendiri betapa menyeramkannya rumah itu jika dilihat dari luar. Dan kini rumah itu sudah ditinggali orang baru.  Yang suami dan istrinya sama sama bekerja, sehingga rumah itu seolah tetap tak terurus. 

Insiden

Nyaris kehilangan orang yang dicintai untuk yang kesekian kalinya, adalah pengalaman yang amat memilukan untuk mengingatnya kembali. 

Tapi hal tersebut justru perlahan mengobati phobiaku akan aroma rumah sakit,  dan aroma darah yang segar maupun darah yang mengering. Suara perlengkapan alat rumah sakit,  dan lorong lorong bangunan yang remang remang. 

Pertama kalinya, aku nyaris kehilangan dia ketika aku masih SMP.  Kecelakaan yang menewaskan 1 orang rekannya,  dan 1 orang patah tulang dan koma. Sialnya,  kekasih ku yang mengalami hal tersebut. 

Berhari-hari di rumah sakit,  tanpa aku tau di rumah sakit mana,  kamar yang mana,  dan bagaimana keadaannya saat itu.  Aku hanya mendengar kabarnya dari guru IPS waktu itu.  Saat itu pula,  aku menagis sesenggukan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.  

Untuk kedua kalinya,  tepat tanggal 18 februari,  2 hari setelah perayaan late valday ku dengan kekasih,  ia mengalami hal sama kembali.  Paginya kami masih menjalani hal rutinitas biasanya.  

Jujur,  hubungan kami bukan hubungan yang harus ngabarin dimana,  sama siapa,  lagi apa,  udh makan apa belum terus terusan.  Kalau salah satu ga bales selama berjam-jam.  Ya mungkin lagi sibuk atau sedang istirahat. Hal itu terbiasa dalam hubungan kami,  tanpa harus pamitan atau memberi tahukan terlebih dahulu. 

Hingga pada sorenya harinya tiada kabar,  temannya mengabari ku bahwa Andry di UGD.  Entah apa yang ku pikirkan,  aku langsung mengenakan cardiganku dan langsung ke UGD yang di maksud tanpa menjawab orang tua ku bertanya kemana aku pergi.

Disana. Beberapa ambulan yang berjejer,  dan aroma obat yang mengelilingi gedung tersebut.  Dorongan dari dalam memaksaku untuk melangkah menelusurinya.  Hingga kaki ku terhenti ketika ku lihat sosok orang tua andry berdiri disebelah bed pasien.  Aku terdiam sejenak di depan pintu.  Menahan emosi yang meluap-luap hingga tenggorokan ku sakit tertahan. Ibunya menghampiriku keluar ruangan.  Memeluk ku dah mengelus punggung ku.  Tercerai berai pertahanan ku saat itu.  Aku menangis sesenggukan dalam pelukannya.  Tapi dorongan dalam hati untuk melihat Andry terasa lebih bergejolak daripada menerusu tangisan tanpa arti tersebut.  

Kucoba merangkai pertahanan ku kembali,  dan mendekati bed nya. Aroma darah yang sangat menyegat menyelimuti sekujur tubuh Andry.  Aku menahannya.  Aku memaksa diriku untuk menerimanya.  Melawan rasa takut dalam dada yang selama ini aku simpan. 

"hai", terucap kata itu melawan rasa pilu. Dia menatapku, seketika kembali runtuh pertahananku melihat tatapannya menangkap tatapanku. Kami menangis sesenggukan bersama. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi,  patah tulang rahang bawah membuatnya harus tetap diam tanpa gerak. 

Beberapa kali aku menatap lampu lampu rumah sakit untuk membuyarkan fokus ku tentang apa yang ada di hadapanku saat itu. Penanganan rumah sakit yang lamban memaksa Andry untuk puasa selama 3 hari,  dan menahan sakit pada rahangnya. Aku membencinya.  Membenci rumah sakit.  Atas segala yang ada di dalamnya dan segala kegiatannya. 

Hari ketiga di UGD,  syukurnya operasi berjalan lancar.  Dan menyisakan bekasa jahitam di dagu,  bibir atas,  lidah dan gusi.

Setiap waktu luang ku sempatkan menjenguknya. Bersama teman-teman SDnya,  teman SMP nya, teman SMA nya,  teman Club motornya,  hingga teman sekelas ku yang tak akrab dengan andry pun datang dan pergi menjenguknya,  memberi semangat padanya.  Menghiburnya,  berbagi cerita dengannya, dan aku terus mencoba menyayanginya atas apa yang telah terjadi pada dirinya. 

Ia tetaplah ia,  yang ku kenal.  Walau raga tak seperti ia yang ku kenal dulu. 

Tapi berhari-hari bolak-balik menjenguknya,  membuatku terbiasa akan aroma darah,  aroma obat-obatan,  bunyi setiap alat di kamar rumah sakit, dan deru roda dari suster yang membawakan makanan tiap pagi,  siang dan malam. 

Tapi aku senang, ia sekarang sudah mampu makan tanpa sedotan lagi, ia sudah mampu berbicara banyak tanpa harus mengetiknya pada note, dan ia sudah mampu tertawa dan menciumku dengan manja kembali. 

New Year's Eve 2009

Pernah ga sih kalian merasa sendirian,  lebih dari sekedar sendirian.  Yang membuat hati begitu memilukan? 

Waktu itu umur ku sekitar 10 tahun, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekitar kelas 4 atau 5 gitu seingatku.  Waktu SD aku memang terbilang cukup cerdas,  banyak teman,  dan berani.  Tapi hal tersebut tidak membuat kebanyakan guru suka terhadapku. Kenapa begitu?  Karena dulu aku juga termasuk anak yang bandel,  suka main pukul,  dan iseng kelewat batas kepada orang orang disekitarku,  entah guru,  maupun teman sendiri. 

Aku ingat dulu kasus ku, nonjok teman sekelas karena dia mainin kotak pensil kaleng berbentuk mobil kesukaanku yang dulu aku dapat dari hadiah juara 1 umum disekolah. 

Lalu,  nendang kelamin temanku karena dulu aku merasa sok jagoan.  Lalu ngempesin ban sepeda kakak kelas,  dan suka nganyutin sepatu anak laki-laki yang lagi sholat jumat, pernah juga nyiram guru dari lantai 2 dengan air aqua dalam botol yang tutupnya di lubangi dengan paku. 

Walaupun demikian,  aku adalah siswa yang suka diajak keluar bali untuk olimpiade ini itu,  mulai dari matematika hingga sains modern.  Aku termasuk siswa spesial,  karena aku tak pernah mengikuti pelajaran normal dikelas.  Hari hari ku, aku habiskan di peepustakaan,  atau ruang guru demi intensif persiapan lomba.  

Lomba-lomba di Malang dan Jogja yang paling sering. Hingga pada suatu hari,  aku dikirim ke jogja bersama 4 rekanku,  mereka semua adalah kakak tingkatku.  Hebat ya,  adik tingkat mainannya sama kakak tingkat. 

Kami berangkat pada akhir bulan Desember 2008. Waktu itu pagi buta orang tua ku mengantarkanku ke bandara naik motor,  karena keluargaku memang tidak punya mobil, dan saat itu hujan lebat.  Lain dengan yang lainnya,  aku melihat kakak tingkat rekan lomba ku datang bersama supir-supir mereka.  Dan ternyata,  orang tua mereka juga ikut ke Jogja menemani anak mereka. 

Kami di karantina sekitar 3 hari,  tiap malam di kamar kami belajar bersama.  Tapi setiap jam tidur, aku terpaksa harus tidur sendiri,  karena mereka lebih memilih tidur di kamar orang tua mereka yang berbeda (VIP) di hotel tempat kami menginap. 

Kami lomba tanggal 1. Dan pada malam hari sebelum tanggal 1, aku merasa lapar dan membeli pop mie di warung dekat hotel.  Setelah itu aku menelfon mama papa, aku merasa kangen saat itu.  Disaat teman teman ku pergi merayakan tahun baruan bersama orang tua mereka di alun alun Jogjakarta.  Aku bersama pop mie,  dan sambungan jarak jauh bersama orang tua. 

Untuk ukuranku saat itu,  kelas 4SD merayakan tahun baru sendirian dalam hotel,  dan esok paginya harus bertempur dengan angka, aku merasa masa kecilku saat itu sungguh tangguh. Sangat mandiri, dan cukup membanggakan.  Sebenarnya aku malu terhadap diriku yang sekarang. 

Saat itu, lomba se-Indonesia dan Malaysia yang aku ikuti,  aku hanya mampu sampai tahap semifinal.  Ya walau cuma aku sendiri,  dan rekan ku tersisih dari awal sesi penyisihan. Sehingga mereka pulang mendahului bersama orang tua mereka. 

Sebelum pulang menuju rumah tercinta,  lagi lagi aku diajak mengunjungi Borobudur dan Prambanan yang hampir membuat ku bosan setiap ke Jogja.  Tapi ya begitulah hidup,  harus tetap dinikmati,  apapun jalannya. 

Late Valentine's Day

Siapa yang tak kenal valentine's day.  Hari yang banyak diminati oleh para pasangan yang tengah dilanda gejolak cinta.  Atau mungkin,  seseorang yang memiliki orang spesial untuk diberikan sesuatu yang berkesan.  

Begitu pula dengan ku dan Andry. 

Seperangkat kebutuhan lelaki seperti jam,  sabuk dsb yang terbungkus kotak mewah nan elegant yang ku pesan jauh-jauh hari kusimpan dalam lemari. Ditambah jaket bomber yang lagi hits banget (katanya)  juga ikut ku pesan jauh jauh hari. 

Pagi itu,  di awal tanggal 14 Februari 2017 hari berjalan seperti biasa,  tanpa ada ucapan spesial.  Hingga pada saat sore tiba,  ntah mengapa tumbuh hasrat ku untuk jalan-jalan malam bersamanya demi merayakan Valday.  Tapi apa yang kudapat?  Ia tidur sore,  dan bangun sekitar pukul 9 malam. 

Padahal sore itu aku sudah berupaya keluar rumah agar bisa bertemu dengannya,  tapi hasilnya Nihil.  Dengan kecewa ku gantung hadiah ku di pintu kamarnya,  lalu pergi meninggalkan.  Aku tak lantas pulang,  demi mengobati rasa kecewa ku,  aku memutuskan untuk ke toko sepatu untuk membeli sepatu sekolah.  Barang yang cukup aneh dibeli,  karena di rumah aku sudah punya banyak sepatu tak terpakai.  

Malam itu aku uring-uringan.  Hingga keesokan hari tiba.  Sebelumnya aku pernah berjanji,  tanggal 15 setelah valday ingin berenang.  Tapi karena rasa kecewa itu masih ada,  aku memutuskan untuk berenang sendirian.  Asli sendirian. Berulang kali ia meminta maaf padaku,  tapi ntah mengapa hati ku tak bergeming sekalipun untuk memaafkannya. 

Hingga keesokan harinya lagi tiba.  Aku memilih untuk memulihkan hati kecewa dengan berenang di rumah temanku sekalian untuk curhat.  Tiba-tiba ia menelfon ku,  mengatakan ingin membawakan nasi goreng yang dari waktu itu aku kode-kodein. 

Dengan semangat,  aku memberitahukan alamat rumah temanku.  Setelah beberapa menit kemudian,  ia datang. 

Aku keluar dengan baju basah dibalut piyama handuk berwarna pink favorite ku.  Ia datang dengan motor vario biru racing nya, ditambah sebuah kotak besar yang diikat dibelakang motornya dan sebuah kotak kecil menggantung didepan motornya. Ia memakai kemeja hitam,  yang membuat kesan tubuh  besarnya terlihat gagah.   Im speechleas. 

Dengan tatapan nakal dan merasa tanpa dosa ia menggoda ku, mengucapkan selamat hari valentine dan menciumku. 

Aku memutar otak,  berfikir bagaimana caranya aku membawa barang sebesar itu pulang.  Terlebih lagi,  ia tak mengizinkanku membukanya disana.  

Sebenarnya,  ia bukanlah tipe cowok romantis.  Tapi ntah siapa yang mengajarinya bertingkah seperti itu.

Apakah kau tau apa isi dari kotak kecil yang di depan motornya.? 

Isinya ialah, 1 botol cymory full dan satunya lagi sisa setengah (pasti dia yang minum),  2 bungkus keju slice,  3 box pocky matcha,  1 pack sponge keju dan 1 batang silverqueen. Makanan kesukaanku semua. Ia paling mengerti. Karena saat itu sedang ramainya teman-temanku. Semua itu habis dengan cepat. 

Dan sebuah kotak besar yang aku bingunh cara bawa pulangnya,  akhirnya aku buka disana demi kenyamananku membawanya pulang. 

Isinya ialah bungkusan pink besar yang mudah ketebak,  pasti isinya boneka.  Ternyata benar.  Boneka stitch berukuran medium terintip dari sobekan yang tak sengaja kubuat.  

Dan aku membawanya pulang dengan motor ku seorang diri.  Ditatap puluhan pasang mata sepanjang jalan.  Dan menjadi bahan omongan saat terkena lampu merah.  

Manusia mana lagi coba yang tega biarin cewenya menderita.  Jauh disana,  ia mungkin tertawa membayangkanku susah payah membawah hadiahnya pulang.  Sungguh lelaki usil dan suka bikin emosi yang terbalut keromantisan dadakan,  dan wajah imutnya yang bikin aku geremetan pingin nabok mukanya pake clurit. Tapi aku menyayanginya. Atas segala perjuangannya membuat valentine's ku lebih bermakna.  Dari setiap materi,  keringat,  dan ide yang ia keluarkan. 

Guru Brengsek

Siapa bilang hidup itu mulus-mulus aja, hidup ku mah penuh lika liku dan jalanan berbatu. Terlebih pada masa SMP ku. Tidak memiliki teman,  orang tua bertengkar,  dan guru-guru yang menyebalkan.   Masa yang akan terus terkenang sampai kapanpun.  

Bermula dari aku duduk dibangku kelas 8, dimana saat awal menerima sesi perkenalan dengan wali kelas.  Kelas ku mendapatkan wali kelas yang friendly, asik,  walau dari covernya terlihat sedikit garang.  Bu Is namanya.  

Hari demi hari,  bulan demi bulan.  Keasikan itu terasa makin berubah. Mulai ada peraturan-peraturan konyol yang membuat ku merasa sedikit janggal.  Setiap siswa di haruskan membawa pulpen 4 warna, merah,  biru,  hijau,  dan hitam.  Lengkap lengkap dengan jangka, penghapus,  pensil, penggaris besi panjang 30cm, dan buku note kecil seharga 500 yang biasa dijual di dagang mainan.  Apabila kami meninggalkan satu benda tersebut,  kami akan kena denda 2.000 rupiah,  bayangkan jika kami meninggalkan 1 kotak pensil.  Berapa denda yang akan kami keluarkan pada hari itu. Btw,  aku pernah mengalaminya,  hal itu membuat ku puasa sehari karena tidak dapat belanja di kantin,  uang bekal ku habis untuk membayar denda tersebut.  

Ketika teman-teman ku masih mempercayai guru tersebut,  pikiran ku malah mulai banting setir membenci dirinya.  Bukan karena aku pernah kena denda,  tapi karena cara dia mengajar juga cukup tak masuk akal.  Bayangkan saja, seorang guru IPA membagi kelompok pada muridnya untuk membuat Band,  lengkap dengan personilnya,  pemain gitar,  bass,  keyboard,  pianika,  dan vokalis.  Band tersebut dibuat pada saat kami mendapat Bab Bunyi, yang seharusnya kami mempelajari panjang gerak longitudinal,  kami malah harus berkutat dengan tugas mengubah not angka menjadi not balok dan mengurusi band dadakan kami.  

Tidak berhenti dsampai disitu,  ia juga membagi kami menjadi beberapa kelompok untuk mengamati ibu hamil,  dengan kehamilan 4 bulan sampai lahiran pada bab Reproduksi.  Wtf!  1 semester kami Hanya untuk mengamati ibu hamil.  Tugas kami terlihat mudah,  hanya melakukan wawancara perharinya dengan 5 pertanyaan,  seperti bagaimana BAB nya,  bagaimana nafsu makannya,  ya seperti itulah.  Tapi yang menjadi tantangan ialah menemukan ibu hamil,  dan pertanyaan berbeda disetiap harinya. 

Aneh?  Sangat!  Itu yang makin membuat ku membenci dirinya.  Disaat kelas lain sudah mendapatkan materi rumus, kelas ku masih berkutat dengan eksperimen konyol buatan manusia mutan macam Bu Is.  Anehnya lagi,  ketika aku curhat dengan teman-teman sekelas ku,  mereka lebih pro kepada Bu Is,  bukan padaku.  Aku mencoba menyadarkan mereka bahwa guru itu bermasalah.  

Akibat ketidak cocokan ku dengan mereka,  keadaan memaksaku u tuk mencari teman di kelas lain.  Hal tersebut malah membuat ia murka,  dan menitahkan teman-teman sekelas ku untuk memusuhiku.  Aku gapapa,  aku ihklas. 

Di lain sisi,  aku memiliki seorang guru agama yang sedikit cabul.  Hal itu membuatku malas untuk mengikuti pelajarannya,  sehingga aku seringkali bolos saat pelajarannya.  

Berita bolos agama ku yang berkalI-kali akhirnya terdengar sampai ke telinga wali kelas ku.  Hal itu membuat ku berurusan kembali dengan guru gendeng yang sialnya adalah wali kelas ku sendiri. Aku sempat dikatain penggoda olehnya,  hal yang tidaK etis dikatakan oleh seorang guru yang seharusnya bermartabat.  Aku membangkan, aku menentang dan aku melawan,  hal tersebut malah menjerumuskan ku ke ruang konseling dengan 4 guru BK lainnya.  Diintrogasiayaknya tersangka,  dan berakhir dengan tercorengnya nama baik ku disekolah. 

Aku bertahan selama setahun untuk dapat lepas dari jeratan Menyeramkan yang selalu menjadi mimpi buruk disetiap malam ku.  

Sahabat

Aku tak pernah menyangka jika sahabat ku sendiri menjadi belahan jiwa ku.  

Ketika aku sibuk mencari yang sempurna seperti ekpektasi yang kudambakan,  lelaki yang tinggi,  putih,  pintar,  tampan,  menawan dan kaya raya.  Disaat itulah aku baru tersadar aku menyia-nyiakan sosok pelindung yg kunantikan. 

Berkali-kali mendapatnya lelaki brengsek, yang mudah dicintai tapi tak mudah untuk mencintai. Menunggu hal yang tak pasti dengan rasa cemas menaruh kasih. Dan berakhir dengan air mata karena ditinggal sendiri bersama perasaan satu sisi.  
Saat itulah..  

Saat dimana akhirnya aku sadar.  Sosok lelaki yang terbilang tidak sempurna,  tapi cukup membuat terlena.  Melindungi tanpa perisai, menyayangi tanpa buai,  dan siap sedia kapan saja dimana saja.  Ya,  dia.  Sahabatku sendiri.  

Kami kenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Awal mulanya kami tak saling kenal, hingga suatu saat kegiatan sekolah mempertemukan kami.  Mulai dari marching band,  satuan keamanan sekolah hingga kelompok belajar.  

Agak malu mengakuinya sebenarnya,  Dulu saat duduk dibangku sekolah dasar aku sudah mengerti kegiatan yang bernama "pacaran". Dulu aku pacaran dengan manusia blasteran Amerika-Indonesia bernama Akbar. Ia memiliki teman dekat bernama Andry,  ya dia.  dia yang sekarang ini menjadi segalanya bagiku. Teman,  sahabat,  kakak,  pacar khayalan,  mungkin calon suami juga.  Haha

Entah angin apa yang membuat aku banting setir menyukai Andry.  Tapi keadaan yang memaksaku untuk tetap menjaga perasaan Akbar.  Aku menyukainya dalam diam hingga aku beranjak menduduki bangku sekolah menengah pertama. 

Aku mendapatkan SMP Negeri keinginan orang tua ku, bukan keinginan ku. Tapi mungkin memang itulah jalannya.  Saat pendaftaran,  aku bertemu lagi dengannya.  Berdiri didekat pintu gerbang, berjalan keluar menuju parkiran.  Ia sempat membuang senyuman padaku sebelum akhirnya senyuman itu menghilang bersama waktu yang mengikutinya, melenggang menjauhi ku. 

Sebenarnya ia tidak mendaftar SMP yang sama denganku,  hanya saja SMP nya dia adalah cabang swasta dari SMP ku,  sebagian guru SMP ku juga mengajar disekolanya nya. Untuk tahun pertama disekolahnya Andry, masih memakai gedung sekolahku, setelah sekolahku usai dipakai,  baru mereka memakainya.  Saat itulah aku sering bertemu dengannya sepulang sekolah. 

Karena saling bertemu akhirnya kami mulai memberanikan diri untuk mendekatkan diri.  Perlahan tapi pasti.  Hingga akhirnya kami merajut tali kasih.  Aku tau ini adalan bagian paling menyedihkan untuk generasi muda saat itu.  Dimana bocah SMP sudah mengenal cinta-cintaan dimasa yang sangat ababil seperti adegan-adegan sinetron yang mendoktrin otak anak jaman sekarang

Hubungan pacaran kami tak seperti pacaran kebanyakan.  Kami memilih tempat wisata alam sebagai tempat dating kami yang paling berkesan.  

Mencari pantai di pelosok hutan, melewati jalanan yang tak pernah kami lewati sama sekali,  menaiki dan menuruni bukit dan anak tangga menuju air terjun.  Yaaa seperti itulah tempat kencan kami.  Aku merasa tinggal kurang kameramen yang mengabadikan kegiatan bolang ala kami. Dan jadilah acara tv bolang traveler. Terlebih lagi tempat yang kami kunjungi terbilang tidak dekat,  bahkan terlalu jauh untuk ukuran bermain anak seusia kami saat itu.  Tapi ya begitulah kami.  Kesamaan mencintai alam membuat kami dekat. 

Walau hubungan kami sempat putus, tapi kesenangan kami berpetualang masih tetap kami jalanin bersama sampai keadaan memberhentikan kami sejenak untuk fokus ujian nasional.  Dan akhirnya kami menjalani dunia kami masing masing dimasa SMA kami.  

Ketika dia sibuk mengurusi pacar barunya,  dan aku sibuk mencari yang sempurna seperti apa yang ada dalam ekpektasi ku yang ku dambakan. 

Tapi hal itu tak berlangsung lama,  karena hasrat berpetualang kami tumbuh kembali.  Hal yang membuat kami kembali menempuh kontak chatingan basa basi untuk melakukan perjalanan trip kami yang baru.  Dan karena hal itu,  ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan kekasihnya,  dan memilih menggantung hubungan bersama ku. Kami teman,  kami sahabat, kami dekat,  tapi kami bukan pacar. 

Sahabat

Aku tak pernah menyangka jika sahabat ku sendiri menjadi belahan jiwa ku.  

Ketika aku sibuk mencari yang sempurna seperti ekpektasi yang kudambakan,  lelaki yang tinggi,  putih,  pintar,  tampan,  menawan dan kaya raya.  Disaat itulah aku baru tersadar aku menyia-nyiakan sosok pelindung yg kunantikan. 

Berkali-kali mendapatnya lelaki brengsek, yang mudah dicintai tapi tak mudah untuk mencintai. Menunggu hal yang tak pasti dengan rasa cemas menaruh kasih. Dan berakhir dengan air mata karena ditinggal sendiri bersama perasaan satu sisi.  
Saat itulah..  

Saat dimana akhirnya aku sadar.  Sosok lelaki yang terbilang tidak sempurna,  tapi cukup membuat terlena.  Melindungi tanpa perisai, menyayangi tanpa buai,  dan siap sedia kapan saja dimana saja.  Ya,  dia.  Sahabatku sendiri.  

Kami kenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Awal mulanya kami tak saling kenal, hingga suatu saat kegiatan sekolah mempertemukan kami.  Mulai dari marching band,  satuan keamanan sekolah hingga kelompok belajar.  

Agak malu mengakuinya sebenarnya,  Dulu saat duduk dibangku sekolah dasar aku sudah mengerti kegiatan yang bernama "pacaran". Dulu aku pacaran dengan manusia blasteran Amerika-Indonesia bernama Akbar. Ia memiliki teman dekat bernama Andry,  ya dia.  dia yang sekarang ini menjadi segalanya bagiku. Teman,  sahabat,  kakak,  pacar khayalan,  mungkin calon suami juga.  Haha

Entah angin apa yang membuat aku banting setir menyukai Andry.  Tapi keadaan yang memaksaku untuk tetap menjaga perasaan Akbar.  Aku menyukainya dalam diam hingga aku beranjak menduduki bangku sekolah menengah pertama. 

Aku mendapatkan SMP Negeri keinginan orang tua ku, bukan keinginan ku. Tapi mungkin memang itulah jalannya.  Saat pendaftaran,  aku bertemu lagi dengannya.  Berdiri didekat pintu gerbang, berjalan keluar menuju parkiran.  Ia sempat membuang senyuman padaku sebelum akhirnya senyuman itu menghilang bersama waktu yang mengikutinya, melenggang menjauhi ku. 

Sebenarnya ia tidak mendaftar SMP yang sama denganku,  hanya saja SMP nya dia adalah cabang swasta dari SMP ku,  sebagian guru SMP ku juga mengajar disekolanya nya. Untuk tahun pertama disekolahnya Andry, masih memakai gedung sekolahku, setelah sekolahku usai dipakai,  baru mereka memakainya.  Saat itulah aku sering bertemu dengannya sepulang sekolah. 

Karena saling bertemu akhirnya kami mulai memberanikan diri untuk mendekatkan diri.  Perlahan tapi pasti.  Hingga akhirnya kami merajut tali kasih.  Aku tau ini adalan bagian paling menyedihkan untuk generasi muda saat itu.  Dimana bocah SMP sudah mengenal cinta-cintaan dimasa yang sangat ababil seperti adegan-adegan sinetron yang mendoktrin otak anak jaman sekarang

Hubungan pacaran kami tak seperti pacaran kebanyakan.  Kami memilih tempat wisata alam sebagai tempat dating kami yang paling berkesan.  

Mencari pantai di pelosok hutan, melewati jalanan yang tak pernah kami lewati sama sekali,  menaiki dan menuruni bukit dan anak tangga menuju air terjun.  Yaaa seperti itulah tempat kencan kami.  Aku merasa tinggal kurang kameramen yang mengabadikan kegiatan bolang ala kami. Dan jadilah acara tv bolang traveler. Terlebih lagi tempat yang kami kunjungi terbilang tidak dekat,  bahkan terlalu jauh untuk ukuran bermain anak seusia kami saat itu.  Tapi ya begitulah kami.  Kesamaan mencintai alam membuat kami dekat. 

Walau hubungan kami sempat putus, tapi kesenangan kami berpetualang masih tetap kami jalanin bersama sampai keadaan memberhentikan kami sejenak untuk fokus ujian nasional.  Dan akhirnya kami menjalani dunia kami masing masing dimasa SMA kami.  

Ketika dia sibuk mengurusi pacar barunya,  dan aku sibuk mencari yang sempurna seperti apa yang ada dalam ekpektasi ku yang ku dambakan. 

Tapi hal itu tak berlangsung lama,  karena hasrat berpetualang kami tumbuh kembali.  Hal yang membuat kami kembali menempuh kontak chatingan basa basi untuk melakukan perjalanan trip kami yang baru.  Dan karena hal itu,  ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan kekasihnya,  dan memilih menggantung hubungan bersama ku. Kami teman,  kami sahabat, kami dekat,  tapi kami bukan pacar. 

Nelsa da Kuma

Sebelumnya biarkan aku memperkenalkan diriku.

Nama ku Nelly Rosaline,  lahir di jakarta pada Rabu Pon,  28 Januari 1998 pukul 5 subuh.  

Tapi dalam akta kelahiranku tertulis Kebumen, 28 Januari 1998. kebumen adalah kampung halaman tempat ayah ku lahir. Tapi ayahku tumbuh dan besar di Jakarta menjadi anak rantauan yang telah banyak pengalaman mengenai sepak terjang kerasnya hidup di Jakarta. Ayah ku lahir dari keluarga yang terbilang biasa biasa aja. 

Lain dengan ibu ku, anak konglomerat jendral TNI di bandung. Yang sejak kecil terbilang serba kecukupan,  kecuali soal kasih sayang.  Keadaan memang memaksa ibu ku untuk tumbuh mandiri tanpa orang tua,  karena sang ayah terus meninggalkannya karena urusan dinas dan tugas diluar kota.  

Ntah bagaimana ceritanya mereka bertemu dan memutuskan untuk menikah,  hingga sekarang memiliki 3 orang yang alhamdulillah masih hidup serta sehat jasmani rohani dan 1 putra yang telah tiada karena gagal terbentuk dalam kandungan. 

Anak anak itu ialah aku dan ketiga saudara laki-laki ku. Aku memiliki 2 orang kakak, dan satu orang adik. Dan akulah anak tercantik dalam keluarga ini. 

Dari kecil aku memang keras kepala,  suka membangkang,  dan semaunya sendiri. Tapi dimana ada keburukan disana aja kebaikan pula. 

Menurut teman-teman ku,  aku adalah karakter yang mudah beradaptasi,  kritis, berani (dalam artian nekat),   loyal dan sosok yang menyenangkan.  Beberapa orang juga mengatakan bahwa aku ini pekerja keras.  

Aku memiliki bisnis sejak SMP. Bisnis ku berbeda agak dari yang anak-anak seusiaku, bisnis ku custom illustration digital art.  Dulu aku menjualnya hanya dengan Rp15.000, tapi jaman aku seusia itu harga segitu sudah termasuk cukup,  karena target ku hanya untuk beli pulsa.  Semakin dewasa aku semakin paham,  bahwa aku harus mencari pembanding harga. Ternyata diluar sana,  rata-rata orang menjual karya digital mereka dengan kisaran harga 50.000-200.000, itu yang membuat mata ku terbuka untuk menaikkan harga. 

Bisnis itu udah berjalan hingga sekarang,  kurang lebih sudah 4 tahun berjalan.  Kini aku sudah memiliki partner kerja penjualan bersama 5 teman ku,  dan partner pembuatan karya 3 orang.  Aku bangga,  di usiaku yang masih duduk di sekolah menengah atas aku sudah memiliki kolega kerja dalam bisnis ku. Aku dapat membeli macam-macam yang aku inginkan.  Mulai dari sepatu,  ransel sekolah,  tas jalan-jalan,  seperangkat alat makeup, bahkan hadiah hadiah untuk adik ku dan kekasihku tanpa harus meminta uang kepada orang tua ku.  

Sebagai anak yang bandel,  dan incaran para guru kesiswaan.  Teman-teman memandangku sebelah mata.  Masa depan suram,  itulah yang mereka Pikirkan tentang ku,  karena kebiasaan ku yang hobi membolos,  penampilan preman dengan baju dan rok ketat,  tidur saat pelajaran,  selalu tidak lepas dari handphone dimanapun dan kapanpun yah begitulah keseharianku disekolah.  Tapi percayalah,  aku memiliki mimpi,  aku ingin sukses menjadi pengusaha muda.

Maka dari situlah aku membuat Motto ku sendiri.  Nelsa da Kuma, yang sebernanya memakai 3 bahasa dalam kalimat itu.  nelsa merupakan singkatan nama ku,  da yang berarti The dalam bahasa inggris, dan kuma dalam bahasa Jepang yang berarti beruang(hewan)

Jadi secara keseluruhan arti Nelsa da Kuma ialah, nelly rosaline si beruang. Beruang yang ku bayangkan ialah orang yang memiliki banyak uang,  bukan orang yang mirip beruang.  Ya seperti itulah target yang ingin ku capai dengan motto yang selalu terpampang dalam setiap identitas ku.