New Year's Eve 2009

Pernah ga sih kalian merasa sendirian,  lebih dari sekedar sendirian.  Yang membuat hati begitu memilukan? 

Waktu itu umur ku sekitar 10 tahun, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekitar kelas 4 atau 5 gitu seingatku.  Waktu SD aku memang terbilang cukup cerdas,  banyak teman,  dan berani.  Tapi hal tersebut tidak membuat kebanyakan guru suka terhadapku. Kenapa begitu?  Karena dulu aku juga termasuk anak yang bandel,  suka main pukul,  dan iseng kelewat batas kepada orang orang disekitarku,  entah guru,  maupun teman sendiri. 

Aku ingat dulu kasus ku, nonjok teman sekelas karena dia mainin kotak pensil kaleng berbentuk mobil kesukaanku yang dulu aku dapat dari hadiah juara 1 umum disekolah. 

Lalu,  nendang kelamin temanku karena dulu aku merasa sok jagoan.  Lalu ngempesin ban sepeda kakak kelas,  dan suka nganyutin sepatu anak laki-laki yang lagi sholat jumat, pernah juga nyiram guru dari lantai 2 dengan air aqua dalam botol yang tutupnya di lubangi dengan paku. 

Walaupun demikian,  aku adalah siswa yang suka diajak keluar bali untuk olimpiade ini itu,  mulai dari matematika hingga sains modern.  Aku termasuk siswa spesial,  karena aku tak pernah mengikuti pelajaran normal dikelas.  Hari hari ku, aku habiskan di peepustakaan,  atau ruang guru demi intensif persiapan lomba.  

Lomba-lomba di Malang dan Jogja yang paling sering. Hingga pada suatu hari,  aku dikirim ke jogja bersama 4 rekanku,  mereka semua adalah kakak tingkatku.  Hebat ya,  adik tingkat mainannya sama kakak tingkat. 

Kami berangkat pada akhir bulan Desember 2008. Waktu itu pagi buta orang tua ku mengantarkanku ke bandara naik motor,  karena keluargaku memang tidak punya mobil, dan saat itu hujan lebat.  Lain dengan yang lainnya,  aku melihat kakak tingkat rekan lomba ku datang bersama supir-supir mereka.  Dan ternyata,  orang tua mereka juga ikut ke Jogja menemani anak mereka. 

Kami di karantina sekitar 3 hari,  tiap malam di kamar kami belajar bersama.  Tapi setiap jam tidur, aku terpaksa harus tidur sendiri,  karena mereka lebih memilih tidur di kamar orang tua mereka yang berbeda (VIP) di hotel tempat kami menginap. 

Kami lomba tanggal 1. Dan pada malam hari sebelum tanggal 1, aku merasa lapar dan membeli pop mie di warung dekat hotel.  Setelah itu aku menelfon mama papa, aku merasa kangen saat itu.  Disaat teman teman ku pergi merayakan tahun baruan bersama orang tua mereka di alun alun Jogjakarta.  Aku bersama pop mie,  dan sambungan jarak jauh bersama orang tua. 

Untuk ukuranku saat itu,  kelas 4SD merayakan tahun baru sendirian dalam hotel,  dan esok paginya harus bertempur dengan angka, aku merasa masa kecilku saat itu sungguh tangguh. Sangat mandiri, dan cukup membanggakan.  Sebenarnya aku malu terhadap diriku yang sekarang. 

Saat itu, lomba se-Indonesia dan Malaysia yang aku ikuti,  aku hanya mampu sampai tahap semifinal.  Ya walau cuma aku sendiri,  dan rekan ku tersisih dari awal sesi penyisihan. Sehingga mereka pulang mendahului bersama orang tua mereka. 

Sebelum pulang menuju rumah tercinta,  lagi lagi aku diajak mengunjungi Borobudur dan Prambanan yang hampir membuat ku bosan setiap ke Jogja.  Tapi ya begitulah hidup,  harus tetap dinikmati,  apapun jalannya. 

No comments:

Post a Comment