Insiden

Nyaris kehilangan orang yang dicintai untuk yang kesekian kalinya, adalah pengalaman yang amat memilukan untuk mengingatnya kembali. 

Tapi hal tersebut justru perlahan mengobati phobiaku akan aroma rumah sakit,  dan aroma darah yang segar maupun darah yang mengering. Suara perlengkapan alat rumah sakit,  dan lorong lorong bangunan yang remang remang. 

Pertama kalinya, aku nyaris kehilangan dia ketika aku masih SMP.  Kecelakaan yang menewaskan 1 orang rekannya,  dan 1 orang patah tulang dan koma. Sialnya,  kekasih ku yang mengalami hal tersebut. 

Berhari-hari di rumah sakit,  tanpa aku tau di rumah sakit mana,  kamar yang mana,  dan bagaimana keadaannya saat itu.  Aku hanya mendengar kabarnya dari guru IPS waktu itu.  Saat itu pula,  aku menagis sesenggukan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.  

Untuk kedua kalinya,  tepat tanggal 18 februari,  2 hari setelah perayaan late valday ku dengan kekasih,  ia mengalami hal sama kembali.  Paginya kami masih menjalani hal rutinitas biasanya.  

Jujur,  hubungan kami bukan hubungan yang harus ngabarin dimana,  sama siapa,  lagi apa,  udh makan apa belum terus terusan.  Kalau salah satu ga bales selama berjam-jam.  Ya mungkin lagi sibuk atau sedang istirahat. Hal itu terbiasa dalam hubungan kami,  tanpa harus pamitan atau memberi tahukan terlebih dahulu. 

Hingga pada sorenya harinya tiada kabar,  temannya mengabari ku bahwa Andry di UGD.  Entah apa yang ku pikirkan,  aku langsung mengenakan cardiganku dan langsung ke UGD yang di maksud tanpa menjawab orang tua ku bertanya kemana aku pergi.

Disana. Beberapa ambulan yang berjejer,  dan aroma obat yang mengelilingi gedung tersebut.  Dorongan dari dalam memaksaku untuk melangkah menelusurinya.  Hingga kaki ku terhenti ketika ku lihat sosok orang tua andry berdiri disebelah bed pasien.  Aku terdiam sejenak di depan pintu.  Menahan emosi yang meluap-luap hingga tenggorokan ku sakit tertahan. Ibunya menghampiriku keluar ruangan.  Memeluk ku dah mengelus punggung ku.  Tercerai berai pertahanan ku saat itu.  Aku menangis sesenggukan dalam pelukannya.  Tapi dorongan dalam hati untuk melihat Andry terasa lebih bergejolak daripada menerusu tangisan tanpa arti tersebut.  

Kucoba merangkai pertahanan ku kembali,  dan mendekati bed nya. Aroma darah yang sangat menyegat menyelimuti sekujur tubuh Andry.  Aku menahannya.  Aku memaksa diriku untuk menerimanya.  Melawan rasa takut dalam dada yang selama ini aku simpan. 

"hai", terucap kata itu melawan rasa pilu. Dia menatapku, seketika kembali runtuh pertahananku melihat tatapannya menangkap tatapanku. Kami menangis sesenggukan bersama. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi,  patah tulang rahang bawah membuatnya harus tetap diam tanpa gerak. 

Beberapa kali aku menatap lampu lampu rumah sakit untuk membuyarkan fokus ku tentang apa yang ada di hadapanku saat itu. Penanganan rumah sakit yang lamban memaksa Andry untuk puasa selama 3 hari,  dan menahan sakit pada rahangnya. Aku membencinya.  Membenci rumah sakit.  Atas segala yang ada di dalamnya dan segala kegiatannya. 

Hari ketiga di UGD,  syukurnya operasi berjalan lancar.  Dan menyisakan bekasa jahitam di dagu,  bibir atas,  lidah dan gusi.

Setiap waktu luang ku sempatkan menjenguknya. Bersama teman-teman SDnya,  teman SMP nya, teman SMA nya,  teman Club motornya,  hingga teman sekelas ku yang tak akrab dengan andry pun datang dan pergi menjenguknya,  memberi semangat padanya.  Menghiburnya,  berbagi cerita dengannya, dan aku terus mencoba menyayanginya atas apa yang telah terjadi pada dirinya. 

Ia tetaplah ia,  yang ku kenal.  Walau raga tak seperti ia yang ku kenal dulu. 

Tapi berhari-hari bolak-balik menjenguknya,  membuatku terbiasa akan aroma darah,  aroma obat-obatan,  bunyi setiap alat di kamar rumah sakit, dan deru roda dari suster yang membawakan makanan tiap pagi,  siang dan malam. 

Tapi aku senang, ia sekarang sudah mampu makan tanpa sedotan lagi, ia sudah mampu berbicara banyak tanpa harus mengetiknya pada note, dan ia sudah mampu tertawa dan menciumku dengan manja kembali. 

No comments:

Post a Comment